MITRA TERPERCAYA BISNIS PULSA
Selamat Datang di Situs Resmi Mitrapulsa !

 

Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran
Al-Quran Antara Teks dan Konteks

Pendahuluan

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ilmu pengetahuan, filsafat, dan peratuan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial, sehingga bahagia hidup di dunia dan di akhirat. Dalam peta perkembangan keilmuan terutama tentang ilmu tafsir dan ilmu Al-Quran, ini telah ada bahkan telah termetode semenjak wafatnya nabi Saw, gaya penafsiran itu semakin berkembang lagi, dan bahkan pada masa tabiin telah tersusun sebuah tafsir pertama yang bukan hanya ditafsirkan oleh dalil naqli, tetapi dengan memakai aqal yang mana kita kenal sampai sekarang tafsir atthobary, dan selanjutnya lebih jauh dari itu perkembangan tafsir dan ilmu Al-Quran semakin mengagumkan dengan adanya tafsir dari berbagai gaya dan disiplin ilmu.

Tetapi dibalik perkembangan itu banyak pula tafsir-tafsir yang hanya dikhususkan dan mengagungkan golongan dan sekte tertentu tanpa mengedepankan emosif objektif , yang pada akhirnya akan melahirkan suatu disiplin ilmu untuk golongan tertentu pula. Dari gaya-gaya tafsir yang tersebar sampai abad ini mungkin kita belum mengetahui secara jelas apakah satu dari sekian banyak karya tafsir itu cukup relevan hingga sekarang? Mungkin ini sebuah pertanyaan yang cukup asing ataupun apalah istilahnya, tapi dengan begitu kita akan lebih tahu akan hakikat dari interpretasi sebuah kitab yang dianut dan dipegang oleh umat terbanyak didunia ini.

Maka dari itu penulis mencoba untuk menggoreskan sebuah coretan kecil yang tentunya kita mencoba menelusuri sejarah interpretasi Al-Quran, metode-metode mufassir dalam menafsirkan Al-Quran dari abad keabad. Semoga dengan begitu, sedikit terbuka wawasan kita dan lebih meyakini akan kitab yang menjadi pegangan kita baik secara tekstualitas maupun kontekstualitasnya.

Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Quran

Sebelum melangkah lebih lanjut, mungkin tidak asing bagi kita di sampul belakang dari banyak mushaf Al-Quran, kita menemukan sebuah firman Allah yang berbunyi “layamssuhu illa al-muthoharun”, mungkin kalau kita tafsirkan secara arti tekstualnya bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali orang-orang yang suci. Tetapi kalau kita bertafakkur dan menafsirkan secara lebih jauh, apakah “la” dalam ayat tersebut bermakna nahi ataukah naïfi? apakah “dhomir hu” kembali kepada mushaf ataukah Al-Quran? apakah kata “Al-mashu” itu yang dimaksudnya itu makna hakikat ataukah makna majaznya? apakah orang suci (Almuthahhar) itu berarti suci secara dhohiriah saja ataukah dzohiriah dan batiniyah? terlepas dari semua pertanyaan tersebut kalau dilihat dari segi pelajaran moral mungkin lebih cenderung kita artikan secara nontekstualnya, kalau kita tafsirkan berarti “tidak akan mendapat petunjuknya kecuali ketika suci dari hal-hal yang merusak kesucian hati (tamak, iri, dengki, hasud, sebagian dari suatu yang merusak kesucian hati). Ini merupakan sebuah contoh yang mungkin juga kita dapat memperluasnya sehingga tidak menyimpang dari tujuan dan pesan moral yang sesungguhnya, tetapi kalau seandainya terlalu jauh dan akan menyimpang dari arti sesungguhnya munkin lebih cenderunga kita interpreetasikan secara tekstualnya. Dari penjelasan tadi kita dapat menyimpulkan bahwa penafsiran itu tidak hanya tertuju pada satu metode, karena kata tafsir itu sendiri mempunyai arti “pemahaman dari sebuah teks “dan bukan makna teks itu sendiri, menafsirkan artinya memahami wujuh al-ma'ani dari teks yang berupaya dipahami, sehingga wujuh (kemungkinan-kemungkina) makna sudah menjelaskan dengan sendirinya posibilitas dari mereka yang berupaya memahaminya.

Dilihat dari sejarahnya, penafsiran Al-Quran sangat begitu semarak sesudah wafatnya Nabi saw, pada masa Rasulullah hidup kebutuhan akan tafsir Al-Quran belum begitu dirasakan, sebab apabila sahabat belum atau kurang memahami sesuatu ayat Al-Quran, mereka dapat langsung menanyakannya kepada rasulullah. Dalam hal ini rasulullah selalu memberikan jawaban yang memuaskan. Setelah Rasulullah wafat, apalagi setelah agama islam meluaskan sayapnya ke jazirah arab, dan memasuki daerah-daerah yang berkebudayaan lama, terjadilah persinggungan antara agama islam dengan kesederhanaannya dengan kebudayaan lama yang telah berpengalaman, perkembangan serta keuletan daya juang di pihak yang lain. Disamping itu kaum muslimin mempunyai tantangan baru terutama yang menyangkut masalah politik dan pemerintahan, berhubungan dengan meluasnya kekuasan islam itu. Pergeseran, persinggungan,dan keperluan ini menimbulkan problem baru. Problem-problem itu dapat dipecahkan apabila ayat Al-Quran ditafsirkan dan diberi komentar, untuk menjawab problem-problem yang baru muncul itu, maka tampillah beberapa sahabat dan tabi'in memberanikan diri untuk tampil dalam menafsirkan ayat Al-Quran yang masih umum dan global itu, sesuai dengan batas-batas lapangan berijtihad kaum muslimin.

Begitu pula halnya tafsir Al-Quran; ia berkembang mengikuti perkembangan masa, dan memenuhi kebutuhan manusia dalam suatu generasi, tiap-tiap masa menghasilkan tafsir-tafsir yang sesuai dengan keperluan dan kebutuhan pada masa itu dengan tidak menyimpang ketentuan-ketentuan agama islam sendiri. Dalam pada itu ilmu tafsir yang dahulu merupakan bagian dari ilmu hadits telah berkembang bersama dengan ilmu-ilmu yang lain. Sebagaiman ilmu-ilmu yang lain maka dalam ilmu tafsir juga terdapat beberapa sekte dan golongan yang timbul akibat perbedaan pandangan dari segi meninjaunya. Dan perbedaan-perbedaan itu secara lebih jauhnya menjadi sebuah metode dalam disiplin ilmu tafsir yang pada akhirnya juga akan menghasilkan beberapa karya-karya tafsir dari periode ke periode, dan tentunya karya-karya tafsir itu sesuai dengan spesialisai para penyusun karya-karya tafsir tersebut.

Kalau kita klasifikasikan karya tafsir menurut periode dan lahirnya karya-karya tersebut, maka perkembangan tafsir Al-Quran terbagi kedalam tiga periode, yaitu:

Pertama; Periode Mutaqoddimin

Tafsir-tafsir pada periode ini belum begitu semarak, dan gaya dalam penafsirannya juga masih melalui tafsiran quran dengan hadits atau Quran dengan Quran. Ciri-ciri karya-karya tafsir pada periode ini yang mana sangat didominasi oleh tafsiran dengan hadits nabi, sehingga dapat kita namakan dengan tafsir bilmanqul atau tafsir bilma'tsur. Sumber penafsiran pada periode ini juga diambil dari sebagian ijtihad para sahabat, cerita-cerita isroiliyyat, yaitu cerita orang yahudi maupun nasroni, sehingga dapat menambah daya tarik dalam penekanan dalam menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kisah-kisah umat-umat terdahulu

Kedua; Periode Mutaakhirin

Perluasan agama islam ke negara diluar jazirah arab menimbulkan percampuran yang sangat signifikan antara kebudayaan islam dengan kebudayaan lokal. Sehingga, dengan percampuran kebudayaan tersebut umat islam berusaha mempelajari kebudayaan dan keilmuan negara barunya, umat islam pada masa itu mempelajari ilmu kemasyarakatan, ilmu filsafat, kedokteran, tatabahasa, dan struktur-strukturnya. Dengan perkembangan selanjutnya, perkembangan keilmuan tersebut mempengaruhi terhadap perkembangan penafsiran Al-Quran al-karim, dan pada periode ini munculah karya-karya tafsir yang bukan hanya melalui hadits nabi melainkan melalui ijtihad dan disiplin ilmu tertentu, sehingga pada masa ini bertebaran karya-karya tafsir baik yang berhubungan dengan teologi (ilmu kalam), tashauf, nahwu shorof, ilmu bayan, badi', ma'ani, dan yang berhubungan dengan sejarah orang-orang terdahulu. Ciri karya-karya tafsir pada periode ini didasarkan pada ijtihad dan aqal, kemunculan tafsir birra'yi sebagai sebuah corak belakangan setelah tafsir bilma'tsur muncul. Walupun sebelum itu ra'yu dalam pengertian aqal sudah digunakan para sahabat ketika menafsirkan al-Quran. Apalagi kalau kita tilik bahwa salah satu sumber penafsiran pada masa sahabat adalah ijtihad.

Kemunculan tafsir birro'yi juga dipicu oleh interaksi umat islam dengan peradaban yunani yang banyak menggunakan aqal, oleh karena itu peranan aqal dalam tafsir birroyi sangat dominant. Dari sana muncullah bergam-ragam aliran tafsir yan muncul seperti yang kita lihat sekarang ini.

Mengenai keabsahan tafsir birroyi, para ulama terbagi kedalam dua kelompok.

Pertama; kelompok yang melarangnya, bahkan sampai abad II H corak penafsiran ini belum mempunyai legitimasi yang luas dari para ulama yang menolaknya, mereka mengemukakan argumen sebagai berikut:

menafsirkan Al-Quran berdasarkan ro'yi berarti membicarakan firman Allah tanpa pengetahuan, dengan demikian, hasil penafsiranya hanya bersifat perkiraan semata

yang berhak menjelaskan Al-Quran hanyalah nabi saw

kedua; kelompok yang mengizinkan dan menerimanya. Mereka berargumen:

Di dalam Al-Quran banyak ditemukan ayat-ayat yang menyerukan untuk mendalami kandungan-kandungan Al-Quran

para sahabat sudah biasa berselisih pendapat mengenai penafsiran suatu ayat, ini membuktikan merekapun menafsirkan Al-Quran dengan ra'yinya, seandainya tafsir birra'yi dilarang, tentunya tindakan sahabat itu keliru

Ketiga; Periode Baru

periode ini dimulai sejak awal abad ke-19 sampai sekarang, tafsir pada periode ini kebanyakan bernafaskan pembaharuan didalam agama islam, seperti halnya: tafsir Almanar yang ditulis oleh Rasyid ridho, tafsir Jauhari oleh Thanthawi Jauhari, dan tafsir-tafsir lainya yang tidak sedikit jumlahnya.

Dari serangkaian klasifikasi tadi, dapat tersimpulkan bahwa masa-masa semaraknya tafsir itu pada periode mutaakhirin, sehingga melahirkan karya-karya tafsir yang sangat beragam dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan, yang mana ini sesuai dengan sumber asalnya yaitu Al-Quran, karena Al-Quran merupakan sumber keilmuan yang wajib digali khazanah keilmuannya, sehingga kita dapat lebih meyakini akan mu'zizat Al-Quran tersebut.

Ayo Segera !!! Bergabunglah bersama Mitra Pulsa
Semoga Kesuksesan Menyertai Anda!

 

 

  1. Iman pada kebenaran Islam

  2. Sejarah Tafsir Al Qur'an

  3. Bahaya Dengki

  4. Mengendalikan Marah

  5. Mengingat Mati

  6. Bersandar pada Allah

  7. Akibat Durhaka pada Ibu

  8.  

Copyright © 2008. mitrapulsa.com All Rights Reserved.
Alamat: Desa Joho RT 09 RW 02 No. 167 Kecamatan Wates Kabupaten Kediri Jawa Timur
Berdiri tanggal 7 Maret 2007