Selamat Datang di Situs Resmi Mitrapulsa ! Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat!

 

Nyeri Lambung Belum Tentu Maag

JAKARTA-- Bagi sebagian masyarakat, asam lambung seringkali dikaitkan dengan penyakit dyspepsia atau yang lebih dikenal maag. Nyatanya ada satu jenis penyakit kronik lain yang disebabkan oleh meningkatnya produksi asam lambung, yaitu Gerd

Istilah Gerd atau Gastroesphageal disease merupakan kondisi adanya aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan. Kondisi itu menyebabkan berbagai gejala hingga menyebabkan terjadinya komplikasi.

Dokter ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit lambung dan pencernaan dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Dr. Ari Fahrial Syam, SpPd mengatakan, berdasarkan data dari rumah sakit, sekitar 20% dari total pasien yang datang ke Departemen Ilmu Penyakit Dalam menyampaikan keluhan gejala Gerd dari ringan hingga parah.

"Gerd penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup. Jika dulu asam lambung hanya menyebabkan masalah pada usus 12 jari dan lambung, kini akibat dari tingginya asam lambung menyebabkan gangguan pada kerongkongan," papar Ari saat Seminar Gerd di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sekitar empat juta orang Indonesia menderita penyakit Gerd. Jika tidak ditangani dengan baik Gerd dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti penyempitan kerongkongan, pendarahan kerongkongan, terbentuknya jaringan pada dinding kerongkongan yang dapat menyebabkan kanker kerongkongan.

Gejala penyakit itu sangat samar, karena hal inilah seringkali pasien telat menanganinya. Gejala samar tersebut antara lain nyeri kerongkongan, batuk kronis terutama di malam hari, radang tenggorokan, suara serak dan sesak nafas. Seringkali masyarakat yang menderita Gerd melakukan pengobatan sesuai dengan gejala yang dirasakan dan menggunakan obat bebas yang ada di pasaran.

Namun, gejala utaamanya adalah heart burn atau rasa panas seperti terbakar di dada dan regurgitasi seperti rasa pahit pada mulut karena naiknya aliran rasa asam ke rongga mulut.

"Konsultasi ke dokter adalah langkah paling perlu agar pengobatan sesuai dengan dosis yang ditentukan dokter," imbuh Ari.

Lamanya paparan asam lambung pada dinding dalam kerongkongan dapat menyebabkan erosi atau kerusakan pada dinding kerongkongan yang disebut refluk esophagitis. Kondisi itu, kata Ari, bisa menjadi penyebab komplikasi.

Dia menjelaskan, Gerd merupakan penyakit multifaktor, namun pola hidup yang tidak seimbang membuat seseorang memiliki resiko tinggi. Kondisi obesitas, kebiasaan langsung tidur sehabis makan, alkohol, kopi dan stres adalah faktor penyebab tingginya asam lambung bahkan bisa mencapai selaput lendir saluran kerongkongan.

Gejala yang ditimbulkan Gerd, papar Ari, dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Untuk itu konsultasi untuk mendapatkan pengobatan yang tepat harus dilakukan pasien. selain itu juga pasien harus merubah pola hidup. Hindari rokok, alkohol, kopi dan makanan pencetus produksi asam lambung, diet rendah lemak, olah raga dapat mencegah penyakit Gerd.

Penanganan secara medis dapat dilakukan dengan proton pump inhibitor (PPI). Cara kerja PPI adalah menghambat pompa asam yang terdapat pada sel di lambung, sehingga mencegah terjadinya pelepasan asam lambung. Namun, Ari menegaskan, jika seseorang merasakan gejala-gejala Gerd harus konsultasi ke dokter, agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan efektif. (cr1/rin)

 

Sumber: Republika

 

 

Kembali ke halaman utama >>>