Selamat Datang di Situs Resmi Mitrapulsa ! Terima kasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat!

 

Antara Garam, Hipertensi dan Jantung

JAKARTA-- Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit yang sangat berbahaya, dan menyebabkan kematian. Sayangnya masih banyak orang yang menderita hipertensi tidak menyadarinya. Perlu diketahui, asupan garam yang berlebihan bisa menjadi pemicu.

Spesialis jantung dan pembuluh darah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. santosao Karokaro, SpJP mengatakan hipertensi sering disebut sebagai "The silent disease" karena hipertensi tidak memiliki keluhan dan tanda khas.

"Orang jarang sekali mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan dirinya ke dokter. Diperkirakan satu dari empat orang penderita hipertensi tidak mengetahui tekanan darahnya tinggi," ungkap Santoso pada peringatan hari hipertensi dunia yang selenggarakan Novartis Indonesia dan Yayasan Jantung Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Hipertensi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu primer dan sekunder. Hipertensi primer artinya hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas.

Santoso mengatakan, hipertensi primer disebabkan oleh bertambahnya usia dan stres. Sedangkan hipertensi sekunder bisa idkatakan penyebabnya sudah pasti misalnya ganjal yang tidak berfungsi dan terganggunya keseimbangan hormon.

Namun yang pasti, lanjutnya, gaya hidup lah yang menjadi faktor utama penyebab hipertensi. Misalnya, Pola makan masyarakat yang tidak seimbang.

"Hipertensi dianggap hal yang biasa karena terkait gaya hidup modern. Kegemukan, asupan garam yang tinggi, asupan alkohol adalah penyebab hipertensi yang banyak ditemukan dari tahun ke tahun," paparnya.

Lebih lanjut Santoso memaparkan hipertensi meningkatkan risiko gagal jantung, penyakit jantung koroner,demensia, kerusakan ginjal, stroke, kebutaan dan kematian. Juga fakta penting, bahwa seseorang dengan tekanan darah tinggi tidak harus menunggu bertahun-tahun  sebelum terjadi komplikasi.

"Hipertensi bisa menyerang tanpa peringatan, dan serangan pertama bisa  merupakan yang terakhir," imbuhnya.

Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).

Kurangi asupan garam

Waspadai asupan garam berlebih karena garam merupakan sumber sodium yang utama dan faktor utama penyebab meningkatnya tekanan darah atau hipertensi yang dapat berkembang menjadi penyakit-penyakit kardiovaskuler.

Hipertensi terjadi jika ada peningkatan volume darah dan penyemputan pembuluh darah yang memaksa kerja jantung untuk memompa darah dan nutrisi. Garam menyebabkan tubuh menhan air dengan tingkat melebihi ambang batas normal tubuh sehingga dapat meningkatkan volume darah dan tekanan darah tinggi.

Dengan begitu garam menjadi cikal bakal penyakit yang menyebabkan kematian nomor satu di dunia yakni jantung. Secara global , menurut data Yayasan Jantung Indonesia, tujuh juta jiwa meninggal setiap tahunnya akibat tekanan darah tinggi.

Angka kematian ini bisa dicegah dengan merubah pola makan misalnya mengurangi asupan sodium. Meskipun sodium terkandung dalam garam namun 80% kandungan sodium  terdapat pada makanan yang diproses atau makanan kemasan.

"Mengurangi konsumsi garam menjadi 6 gr per hari dapat menurunkan resiko stroke hingga 24%," imbuh Santoso.

Di Indonesia menurut data dari Indonesian Society of Hypertension asupan garam harian mencapai 15 gr hingga dua kali liat yang direkomendasikan WHO yaitu 5 sampai 6 gr per hari. Ada tiga tahap diet rendah garam yakni terdiri dari diet ringan (konsumsi garam 3,75-7,5 gram per hari), menengah (1,25-3,75 gram per hari) dan berat (kurang dari 1,25 gram per hari).

Dengan begitu pengurangan asupan garam secara nasional adalah cara paling cepat dan murah untuk mencegah penyakit kardiovaskuler, imbuhnya. Dalam hal ini peran aktif masyarakat sangat diperlukan untuk menurunkan angka kematian akibat kardiovaskuler.

Selain pada garam sumber sodium yang perlu diwaspadai berasal dari penyedap masakan (MSG). Budaya masyarakat Indonesia dalam menggunakan MSG di setiap masakan sangat megkhawatirkan. Belum lagi jajanan bebas seperti bakso, soto atau makanan kemasan. Tanpa disadari, asupan garam per hari sangat tinggi yang dapat memicu tekanan darah semakin meningkat. (cr1/rin)

Sumber: republika

 

Kembali ke halaman utama >>>